Animasi 3D
Pengertian Animasi 3D;
Animasi 3D merupakan perkembangan dari animasi 2D. Bisa juga dibilang adanya animasi 3D ini dampak dari perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Animasi 3D adalah suatu objek animasi yang terdapat dalam ruang 3D. Animasi ini tidak hanya memiliki tinggi dan lebar, melainkan juga memiliki volume atau kedalaman (height, widht, depth). Objek animasi bisa berputar dan bergerak layaknya objek aslinya. Tampilannya seolah-olah nyata dan hidup.Animasi 3D terciota karena adanya keinginan manusia untuk membuat gambar seolah-olah hidup dan dapat bergerak sebagai bentuk pengungkapan dari mereka. Hal ini dikuatkan dengan hasil dari penelitian bahwa manusia lebih cepat merespon gambar daripada sederetan tulisan.Gambar memiliki ragam makna, melalui gambar orang dapat menyampaikan banyak cerita. Mulalui gambar juga, orang dapat mengambil suatu makna yang terkandung dalam gambar tersebut. Tentunya dengan pendapat yang berbeda-beda tergantung dari sudut pandang orang itu.Nah, hal ini juga berlaku pada animasi. Animasi merupakan serangkaian gambar yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk rangkaian gerak sekuensial. Pesan yang terkandung dalam animasi tersebut bergantung pada imajinasi seseorang yang melihatnya.
Contoh Animasi 3D;
1. Frozen

Berbicara tentang film animasi dengan 3D terbaik, maka kategori ini tepat diberikan kepada Frozen. Film arahan Chris Buck dan Jennifer Lee ini sukses memberikan efek 3D yang benar-benar apik bagi para penontonnya. Hebatnya, Frozen sukses membawa piala di ajang Golden Globe, Bafta Awards hingga Annie Awards. Sejak Frozen ditayangkan, film ini pun telah memperoleh pendapatan mencapai US$ 1 miliar.
2. UP

UP merupakan film animasi yang menampilkan efek 3D terbaik. Film yang diproduksi oleh Walt Disney Pictures ini ditayangkan pada 29 Mei 2009 dalam Cannes Film Festival. Ternyata, UP menjadi film animasi pertama yang diputar dalam acara tersebut. Rangkaian cerita yang simple dengan dukungan 3D yang berkualiatas menjadikan Up menjadi pemenang untuk kategori Best Animated Feature dan Best Music di ajang yang sama pada tahun 2010.
3. Finding Nemo

Film animasi dengan 3D terbaik selanjutnya adalah Finding Nemo. Karya sutradara Andrew Stanton berkisah tentang petualangan sebuah keluarga ikan hias, yang terdiri dari ayah dan anak, yang tinggal di terumbu karang. Lantaran efek 3D yang sangat bagus, Finding Nemo berhasil menyabet penghargaan di ajang Academy Award. Bahkan, Finding Nemo menjadi film animasi terlaris di dunia.
4. Kungfu Panda

Tak mau kalah dari Finding Nemo, film Kungfu Panda juga masuk dalam kategori animasi dengan 3D terbaik. Film produksi Dreamworks ini sukses membuat penontonnya tertawa atas tingkah lucu para tokoh terutama Panda Po. Film ini berhasil masuk nominasi Best Animated Feature di ajang Oscar tahun 2009 dan sukses menjadi film animasi terlaris di dunia pada tahun 2008.
5. Shrek

Terakhir, Shrek pun menjadi salah satu film animasi dengan efek 3D terbaik. Film yang diarahi oleh sutradara Andrew Adamson dan Vicky Jenson ini diadaptasi dari sebuah buku dongeng berjudul serupa. Shrek menjadi film pertama yang meraih piala Academy Award untuk fitur film animasi terbaik tahun 2001.
Sejarah Animasi 3D;
Teknologi 3D sebenarnya sudah muncul tak lama sejak teknologi fotografi muncul pertama kali. Pada tahun 1856, JC d’Almeida memberikan demonstrasi di Academie de Sciences tentang gambar-gambar stereoscopik (dua gambar foto yang sama dengan perspektif sedikit berbeda satu sama lain berjarak sekitar dua setengah inci yang merepresentasikan jarak antara kedua mata manusia) yang diproyeksikan secara bergantian dengan cepat melalui slides cahaya lentera berwarna merah dan hijau. Sementara itu penonton memakai kaca mata merah dan hijau sehingga mereka bisa melihat gambar foto itu secara tiga dimensi.
Setelah itu pada tahun 1890an, Ducos du Hauron mematenkan temuannya berupa dua warna, sistem anaglyph: dua lembar film positif transparan stereoscopik di-superimpose (ditumpuk). Ketika diproyeksikan, penonton bisa melihat efek tiga dimensi dengan memakai kacamata anaglyph (lensa merah di satu sisi dan lensa biru di sisi yang lain). Pada masa sekarang kaca mata anaglyph memakai lensa merah dan cyan.
Pada tahun 1897, C. Grivolas mengadaptasi sistem anaglyph ini untuk memutar film bergerak (motion pictures) secara 3D namun pengaplikasian teknologi ini baru dipakai pertama kali untuk film layar lebar di tahun 1922 dengan film The Power of Love yang dibuat oleh Harry K Fairall. Secara teknis selain memakai sistem anaglyph, film ini juga memakai dual film strip projection. Artinya, dibutuhkan dua strip film yang diputar secara bersamaan dengan dua proyektor film sejajar. Setelah itu banyak bermunculan film-film lain dengan format 3D sistem anaglyph yang lain.
Anaglyph sendiri memiliki kelemahan, yaitu untuk menghasilkan efek tiga dimensi, sistem ini melakukan pemblokiran warna-warna tertentu dari gambar stereoscopik yang diproyeksikan ke layar untuk mendapatkan efek 3D. Akibatnya tidak tercapai full colour. Hal ini tidak bermasalah di zaman film hitam-putih. Ketika muncul film berwarna di tahun 1935 maka ini menjadi sebuah problem.
Sebuah gebrakan teknologi muncul ketika ilmuwan bernama Edwin Land mematenkan temuannya berupa filter Polaroid di tahun 1932. Filter Polaroid dibentuk dengan tumpukan lapisan-lapisan filter tipis transparan yang dimiringkan dengan sudut tertentu untuk meniadakan silau (glare) cahaya yang dilewati filter itu. Di kemudian hari filter ini bisa diaplikasikan untuk teknologi 3D dan kamera instan Polaroid. Dibandingkan dengan sistem anaglyph, Polaroid 3D (Polarized 3D) lebih baik karena prinsip kerjanya mempolarisasi (memfilter) gelombang cahaya tertentu tanpa memblokir warna apapun agar tercapai efek 3D ketika diproyeksikan di layar dan ditonton dengan kaca mata anaglyph.
Di Uni Soviet pada tahun 30an, seorang insinyur Rusia berhasil menyempurnakan teknologi film 3D dengan sistem yang disebut parallax stereogram. Sistem ini sebelumnya dikembangkan secara terpisah oleh A. Berhtier, E. Estenave dan Frederick Ives. Tidak seperti anaglyph ataupun polirized 3D, sistem ini berfungsi menghasilkan proyeksi gambar film tiga dimensi tanpa penonton memakai kacamata anaglyph atau apapun. Kekurangan sistem ini adalah apabila duduk miring atau melihat dari perspektif yang miring maka efek stereoscopi atau 3D film itu buyar.
Sumber pengertian:https://qomaruna.com/pengertian-animasi-3d/
Sumber contoh: https://jadiberita.com/50937/5-film-animasi-dengan-3d-terbaik.html
SumberSejarah: https://sites.google.com › site › media-3d › animasi-3d
😄

0 komentar:
Posting Komentar